Cerita-cerita Dengan Bang Azmi
Semoga apa yang saya bagikan bisa beranfaat bagi pembaca
Klik disini
Selasa, 10 Januari 2017
Tugas Akhir Teknik Multimedia dan Jaringan Amikom Mataram
Wow....wow...wow
Aku punya cerita yang seru ne, kebetulan beberapa minggu yang lalu saya mendapat tugas dari kampus untuk bikin sebuah film pendek yang berdurasi sekitar 12 menit. Aku bersama keempat orang kelompok ku sangat antusias untuk membuat filmnya, sampai-sampai kami menghabiskan hari-hari kami untuk fokus membuat film dalam beberapa minggu kemarin. Okelah... tanpa berpanjang lebar lagi, alhasil film pendek kami berhasil kami selesaikan dengan penuh perjuangan. Buat temen-temen yang penasaran, kayak gimana sih filmnya ???? woles aja bray, di bawah ini sudah aku sediakan vidionya, silahkan di play aja:)
Gimana vidionya ?? jangan lupa shaer, like atau subscribe ya...........
Oke... sekian dulu ya cerita dari bang Azmi yang kece badai. Hehe........
Aku punya cerita yang seru ne, kebetulan beberapa minggu yang lalu saya mendapat tugas dari kampus untuk bikin sebuah film pendek yang berdurasi sekitar 12 menit. Aku bersama keempat orang kelompok ku sangat antusias untuk membuat filmnya, sampai-sampai kami menghabiskan hari-hari kami untuk fokus membuat film dalam beberapa minggu kemarin. Okelah... tanpa berpanjang lebar lagi, alhasil film pendek kami berhasil kami selesaikan dengan penuh perjuangan. Buat temen-temen yang penasaran, kayak gimana sih filmnya ???? woles aja bray, di bawah ini sudah aku sediakan vidionya, silahkan di play aja:)
Oke... sekian dulu ya cerita dari bang Azmi yang kece badai. Hehe........
Lomba Joget Seru Ibuk-ibuk
Hallo semua......
Pengen lihat aksi seru ibuk-ibuk saat mengikuti lomba joget di kampung ku terinta. Yuk intip vidionya.
Gimana !!! lumayan kan vidionya bisa menghibur temen-temen semua...... Jangan lupa juga di like, shaer atau subscribe vidionya ya. Terimakasih
Pengen lihat aksi seru ibuk-ibuk saat mengikuti lomba joget di kampung ku terinta. Yuk intip vidionya.
Gimana !!! lumayan kan vidionya bisa menghibur temen-temen semua...... Jangan lupa juga di like, shaer atau subscribe vidionya ya. Terimakasih
Kamis, 22 Desember 2016
Nikmatnya Dalam Melakukan Sebuah Kebaikan Dalam Hidup
Apapun yang kita inginkan dan apapun tujuan kita tentu harus didasari dengan niat yang tulus. Tapi tentu saja niat itu tidak cukup tanpa di iringi dengan usaha. Itulah kenapa saya memberikan tema Pentingnya Niat Dan Usaha Untuk Mencapai Tujuan pada postingan saya kali ini. Coba kita bayangkn ketika kita berniat untuk pergi ke suatu tempat, akan tetapi kita hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan usaha. Akankah kita akan sampai ke tmpat tujuan kita ??. Tentu saja tidak bukan. Karna itu mulai dari sekarang setelah kalian membaca postingan saya ini, jika kalian memiliki niat, entah apapun itu niat kalian, iringilah dengan usaha yang sungguh-sungguh. Kita sadar bahwa kita sebagai manusia hanya mampu berniat dan berusaha akan tetapi hanya Tuhan yang maha kuasalah yang dapat menentukan sgalanya. Akan tetapi jika kita sudah berniat yang tulus dan berusaha keras Insa Alloh semua itu pasti akan berujung baik dan menyenangkan. Yakinlah bahwa Tuhan selalu ada bersama setiap umatnya yang mau berusaha keras demi mencapai sebuah tujuan, Tuhan itu tau mana yang terbaik buat umatnya, jadi buat kalian yang mungkin suka putus asa dalam menghadapi masalah hidup kalian. Mulai sekarang ubahlah cara berpikir kalian, yakinkan diri kalian bahwa Tuhan itu ada bersama kalian. Ingatlah perjuangan ibu kalian ketika mengeluarkan kalian dari rahimnya, jika itu kita bayangkan menggunakan logika kita, mungkin itu semua mustahil terjadi. Akan tetapi dengan niat yang tulus dan perjuangan yang begitu keras hingga mengancam nyawanya sendiri, ia terus berjuang demi mengeluarkan kita, dan lihatlah diri kita, kita sekarang bisa menikmati keindahan dunia karna perjuangan dari seorang ibu yang dengan niatnya yang tulus dan usaha kerasnya mengandung hingga melahirkan kita. Setelah mengingat hal itu, akan kita akan semakin mudah putus asa lagi. Semoga saja tidak. Jadi perjuangkanlah niat-niat kalian dengan segala kemampuan yang kalian miliki dan kembali yakinkan diri kalian bahwa kalian pasti bisa mencapai tujuan yang kalian inginkan. Keep spirit, kalau mereka bisa kita pasti bisa.
Salam Inspirasi Sederhana
Salam Inspirasi Sederhana
Nikmatnya Dalam Melakukan Sebuah Kebaikan Dalam Hidup
Didalam diri manusia terdapat segumpal daging yang di sebut hati, yang apabila hati itu di gunakan dengan berbuat kebaikan maka kita akan dimuliakan bahkan lebih mulia daripada malaikat. Dan begitu pula sebalikanya, jika kita menggunakan hati ini dengan melakukan keburukan, maka kita akan dihinakan bahkan lebih hina dari binatang yang paling hina. Sekarang coba bayangkan, kebaikan apa yang terakhir kalian lakukan dalam hidup ini, bayangkan apa yang kalian rasakan setelah melakukan sebuah kebaikan itu. Tentu saja kenyamanan akan kalian rasakan setelah melakukan kebaikan dalam hidup ini, betul tidak ?? ya tentu saja betul. Karna kebaikan itu adalah salah satu sumber untuk mendapatkan kenyamnan dalam hidup ini. Jadi setelah kalian tau dan rasakan nikmatnya melakukan sebuah kebaikan.
Apakah kalian masih akan berpikir panjang untuk melakukan kebaikan ??
Apakah kalian akan menghindar ketika di tuntut untuk melakukan sebuah kebaikan ??
Atau bahkan kalian akan mencari alasan untuk terhindar dari berbuat baik ??
Semoga kita tidak termasuk orang yang senantiasa seperti itu. Buat kalian yang belum merasakan nikmatnya melakukan sebuah kebaikan, coba kalian dekati ibu kalian buat kalian yang masih hidup bersama ibu kalian, setelah kalian mendekati ibu kalian. Cobalah untuk membuat ibu kalian tersenyum, dan ketika ibu kalian tersenyum, pandangilah wajah ibu kalian dengan sepenuh hati kalian. Dan bayangkan apa yang kalian rasakan saat memandangi wajah ibu kamu yang sedang tersenyum itu. Tanyakan kepada diri kalian betapa bangga dan nyamanya kalian ketika melakukan satu buah kebaikan. Setelah kalian merasakan nikmatnya melakukan sebuah kebaikan, semoga dengan kenikmatan itu dapat membuka hati kita semua untuk terus melakukan kebaikan dalah hidup ini.
Terimakasih sudah membaca artikel saya semoga bermanfaat.
Salam Inspirasi Sederhana
Apakah kalian masih akan berpikir panjang untuk melakukan kebaikan ??
Apakah kalian akan menghindar ketika di tuntut untuk melakukan sebuah kebaikan ??
Atau bahkan kalian akan mencari alasan untuk terhindar dari berbuat baik ??
Semoga kita tidak termasuk orang yang senantiasa seperti itu. Buat kalian yang belum merasakan nikmatnya melakukan sebuah kebaikan, coba kalian dekati ibu kalian buat kalian yang masih hidup bersama ibu kalian, setelah kalian mendekati ibu kalian. Cobalah untuk membuat ibu kalian tersenyum, dan ketika ibu kalian tersenyum, pandangilah wajah ibu kalian dengan sepenuh hati kalian. Dan bayangkan apa yang kalian rasakan saat memandangi wajah ibu kamu yang sedang tersenyum itu. Tanyakan kepada diri kalian betapa bangga dan nyamanya kalian ketika melakukan satu buah kebaikan. Setelah kalian merasakan nikmatnya melakukan sebuah kebaikan, semoga dengan kenikmatan itu dapat membuka hati kita semua untuk terus melakukan kebaikan dalah hidup ini.
Terimakasih sudah membaca artikel saya semoga bermanfaat.
Salam Inspirasi Sederhana
Perjuangan Seorang Ibu Tiga Orang Anak Yang Menginpirasi
Silahkan Play Vidionya
Ini ada seorang ibu tiga anak yang berasal dari sebuah dusun terpencil di daerah Lingsar, dusun itu bernama Kebun Bar, Desa Giri Madia. Ibu tiga anak yang memiliki dua anak perempuan dan satu anak laki-laki dan memiliki dua orang cucu dari anak perempuanya yang telah hidup berumah tangga pada umur kurang lebih 19 tahun, ibu ini berprofesi sebagai petani kebun sekaligus ibu rumah tangga, walau dengan berprofesi hanya sebagai seorang petani. Tapi semua itu tidak mematahkan semangatnya demi membiayai pendidikan dua orang anaknya yang masing-masing menduduki bangku sekolah SMP dan satu lagi anaknya yang laki-laki sedang menempuh pendidikan Diploma Tiga (D-3) di Amikom Mataram, yaitu saya sendiri. Tiada hari tanpa bekerja, itu adalah kata yang tepat untuk seorang ibu yang bernam Mahmudah ini. Setiap hari dia memanfaatkan waktunya untuk bekerja di kebun membantu sang suaminya yang juga berprofesi sebagai petani kebun. Walaupun dengan kesibukanya dalam mencari nafkah untuk dua orang anaknya, pada malam harinya ibu ini selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk mengajarkan anak-anak di kampungnya membaca Al-Qur’an. Dibawah ini saya menyisipkan video saat ia ini sedang melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suara merdunya, silahkan di play buat kalian yang ingin mengintipnya. Selain dirinya, ia juga memiliki saudara laki-laki yang suaranya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an juga tidak jauh beda dari suaranya. Mungkin jika saya ada waktu luang lagi nanti akan saya search untuk anda semua. Di tunggu aja postingan saya selanjutnya, semoga saya bisa membagikanya untuk anda.
Terima kasih sudah membaca postingan saya kali ini, silahkan play vidionya untuk mendengar suara merdu dari ibu tiga orang anak yang berprofesi sebagai petani ini.
Kamis, 15 Desember 2016
Peran Seorang Ibu Bagi Anak-Anaknya Dari Kecil Hingga Dewasa
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya.Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
sumber artikel :https://motivationplannet.wordpress.com/2009/05/21/ibu/
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
sumber artikel :https://motivationplannet.wordpress.com/2009/05/21/ibu/
Langganan:
Komentar (Atom)